Sunday, February 28, 2016

Sholihuddin Ku



 
            Dengan semangat membara aku korbankan jiwa, raga bahkan materi untuk mengabdi padamu. Apapun persyaratan aku lakukan agar bisa menemuimu walau hanya sekejap. Sebuah proses yang tidak mudah untuk menemukanmu. Mudahkanlah aku agar menicicipi tabirmu di Negeri Gajah Putih Yaa Rab. Tibalah saatnya aku diberikan kesempatan untuk terbang jauh, mengembus guncangan awan-awan sana. Kala itu membuat aku tak tahu, harus bergantung kepada siapa lagi? kalau selain kepada Allah SWT.
            Perjalanan gelisah nan indah telah ku lalui hingga ibu kota mu Bangkok. Matahari bersinar ku hirup udara negerimu, terasa hasratku sebentar lagi bisa melihat senyumanmu Sasana Bamrung. Nampaknya aku perlu berjuang lagi, dengan melalui kereta api kuno, ku terjang hutan-hutan rimba yang merampas 19 jam, tapi tetap ku lafadzkan namamu Sasana Bamrung. Akhirnya Tuhan pada saat itu, merestui cita-cita saya, berawal dengan memegang lenganmu. Kau bawa aku begitu tulus dan ikhlas, aku pun tak tahu kemana mau dibawa kemanakah aku.
            Beberapa tulisan aksaramu, membuat aku buta di atas jalananmu yang begitu luas dan elok. Namun kamu tetap membawaku, akan kau tinggalkan ku di mana? Jalan demi jalan yang luas itu, berupaya untuk merasutiku. Pada akhirnya aku temui puncak sekolahmu ini. Saat itu juga baru aku tahu namamu yang begitu suram di telingaku, nampaknya sangat indah tutur katanya hendak bertemu dengan legendamu itu, Sasana Bamrung itu, yah “Sholihuddin”. Subhanallah rabbana ma kholaqta hadza batila. Disaat Tuhan benar-benar telah mempertemukan kita, namun mengapa dan kenapa? Kamu meninggalkanku secepat itu. Aku lama terbang menerjang goncangan awan, Namun mengapa hanya sekejap kamu di hadapanku. Hari itu pula aku di lempar ke tanah orang, sempat tak bertemu apalagi pamitan. Kamu pergi jauh kala itu dan lama sekali melebihi 1 pekan, tapi aku tidak menghianati atas abdiku padamu Sholihuddin. Walau di tanah orang, aku akan mengira dan menganggap itu adalah kamu, wahai para pejuang Islam.
            Setelah sekian lama, aku telah bersama orang lain, aku merasakan sudah benar-benar nyaman di sana. Tapi mengapa kamu memanggilku lagi? Tak tahu aku harus mau bilang apa, dan cara apa untuk menjelaskan sama orang ini. Yah tak apalah aku coba jelaskan dan pamitan dengan topeng kepada saudara ku yang sudah ku anggap sejak 1 pekan lebih. Nampaknya mereka tidak ingin melepaskan, tapi mau bagaiamana lagi, memang hati sejak dari Indonesia sudah memilih kamu. Kamunya saja yang tiba-tiba terbirit-birit menjauhiku, yah sekarang mendekatiku. Okelah aku tunggu kala itu, sudah sekian lama aku menunggumu, mengapa kamu tidak menepati janjimu semua. Akhirnya aku harus bersama orang lain lagi, karena mengisi kekosonganku.
            Setelah bersama-sama mengingat bahwa besok adalah hari aktif lagi, akhirnya entah seperti apa, kita dijanjikan menjelang matahari terbenam untuk dipertemukan. Setelah itu aku bertemu dengan rekan-rekan yang semula awal menerima ku disini. Tak hanya hari ini, tapi hari-hari kedepan aku akan bersamamu. Kita akan saling bahu-membahu, bekerja sama untuk menegakkan syariat Islam. Akhirnya cita-cita ku turwujud dengan bukti dan fakta-faktnya. Aku bersamamu disini, aku mendidikmu disini, aku mengajarimu disini tapi tak akan selamnay. Karena masa tidak bisa kita atur, namun secara global masalah waktu yang secara tidak sadar, dia sanggunp mengatur kita, secara sadar atau tidak sadar. Oleh karenanya dengan waktu yang singkat aku yakin, kamu sedikit kecewa. Tapi yang akan menemanimu selamanya adalah generasi muslim Sholihuddin ini.
Aku ingatkan padamu, wahai generasi penerusku, aku disini merasakan hanya hitungan hari saja, namun aku akan berjanji menjaga kesucian cinta kasih dan sayang darinya untukku, atau dariku untuknya. Akan aku pegang erat nilai-nilai yang terkandung dalam benakku, walau hanya sekejap dan akan ku ingat sepanjang hayat hidupku. Lantas bagaimana denganmu yang sudah lama, bahkan kamu yang akan lebih lama dariku sekarang ini. Apa yang bisa kau berikan untuknya? Apa yang akan kau buktikan untuknya? Aku berhaparap apapun itu, buatlah ia terharu hingga meneteskan air matanya karena cintamu padanya, dibuktikan dengan senyumanmu untuknya, semangat belajarmu untuknya, hingga prestasimu untuknya. Maaf sebelumnya, tidak bermaksud apa-apa hanya ini yang bisa ku torehkan untuk merefreshkan kembali, tujuan kalian di sini untuk apa? Dan Apa yang kau cari di sini? Inilah hanya sedikit buktiku padamu melalui tulisan isi hati ini.
                                   
                                   
                                                                                                                                    Chana,
                                                                                                                                    Agung Muttaqien
                                                                                                                                    28 January 2015