Wednesday, September 25, 2013

Panggilan Tak Terduga Untuk Selamanya

                  Hati ini kembali ditegur oleh sang Khalik atas apa saja yang telah saya lakukan selama ini. Melalui perantara ayahanda Dwi Nurmala, mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab fakultas Humaniora ada kejadian yang sangat terpukul sekali terhadapnya karena telah ditinggal selama-lamanya oleh ayahnya. Kabar itu terdengar melalui nada dering pesan singkat masuk dengan Hp Samsung, terdapat 7 pesan singkat yang mengabarkan wafatnya ayahanda Dwi Nurmala. Namun 5 jam sebelum kabar itu diketahui sayapun merasa santai nyaman dan enjoy dengan salah satu anggota HMJ PBA tersebut. Kamipun pada pukul 20.00 WIB melakukan sebuah kinerja yang merupakan itu dari program kerja kami dari Devisi Talimullugoh yaitu test interview bagi mahasiswa baru PBA 2013. Setelah test interview dari berbagai bidang kami lalui seperti halnya pidato bahasa Arab, Master of Ceremony, Kalimat Mutiara, kamipun mengadakan evaluasi di gedeung B lantai 2 menghadap utara. Sempat tersirat Mala berbincang dengan saya ”kamu mau masuk UKM LKP2m”? “insya Allah aku juga berencana seperti itu ingin masuk tahun ini” jawab si Agung. Lalu merespon kembali dengan antusias mala itu lalu “beneran kamu gung…???” lalu jawab si Agung “iya beneran dah masa bohong” Malapun menggapi kembali “ya udah kalau gitu kita daftar bareng yah ok !!!” beriringan dengan hamparan tangan kanannya yang di lontarkan kepada tangan si Agung melambangkan kesetujuan dan jotos bareng.
                Itulah yang menandakan sikap seseorang yang akan dipanggil oleh sang Khalik selamanya kita tidak akan pernah tahu, kapan dan dimana itu terjadi. Kepada siapapun panggilan itu dikabulkan baik kita yang sedang sibuk dengan urusan dunianya atau dengan jabatan tahta hingga harta kemudian orang miskin maupun kaya sekalipun. Tidak ada pandangan dari level kedunian dalam permasalah memenuhi panggilan selamanya untuk gusti Allah SWT.  Semuanya atas kehendak dan irodah sang pencipta Allah SWT. Maka kita sebagai umat akhir zaman agar selalu menghindari dari segala marabahaya lentera kemaksiatan ataupun zona kesyaitanan, melainkan kita untu selalu bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan ridho Allah SWT dalam menopang kehidupan hingga akhir hayat.
Kesimpulan dalam panggilan tak terduga untuk selamanya kita siap atau tidak siap mulai dari sekarang selalu untuk bersiap-siap atas panggilanNya. Dengan ama-amal sholeh fi mardhotillah.

Monday, May 27, 2013

An Naba Kunjungi Jawa Pos

Semangat yang penuh, ditorehkan oleh Tim Buletin An-Naba HTQ. Dengan tetesan embun yang dilihat sekitarnya mereka melangkahkan kakinya menunju masjid Ulul Albab guna berkumpul untuk berangkat menuju kantor pusat Jawa Pos, Surabaya, (10/5/2013). Tim buletin An-Naba ini yang dikomandoi oleh seorang pimpinan redaksi  Gus M. Muzakki Mukhtar, meluncur menuju jawa pos tepat pukul 07.48 WIB menggunakan kendaraan roda empat Isuzu Elef. Kegiatan ini merupakan pertama kalinya yang dilakukan oleh Tim Buletin An-Naba HTQ yang bertujuan untuk mencari pengalaman dan ilmu baru tentunya, mengetahui bagaimana sistem kinerja pada suatu media tulis/cetak, memperdalam profesionalitas individual dalam job-job yang diagendakan oleh buletin ini sendiri. Ungkap mahasiwa jurusan Teknik Informatika ini.
Kunjungan perdana ini mayoritas diikuti oleh tim bulletin An Naba HTQ. Namun hanya beberapa crew saja yang berhalangan hadir. Jumlah yang mengikuti kegiatan ini 16 orang yang terdiri dari7 pria dan 7 wanita. Mereka selama perjalanan menuju kantor Jawa Pos yang berada di pusat perkotaan Jawa Timur itu diakomodir oleh Gus M. Faiz Afghani dan Ning Khusnul Chamidyah. Alhamdulillah selama perjalan temen-temen Buletin An-Naba HTQ, tidak ada yang mengalami sakit dan semuanya dalam kondisi sehat-sehat saja. Ungkap Gus Faiz panggilan karib di arena HTQ itu.
Sebelum menuju jawa pos rombongan yang berseragam jas almamater HTQ ini, melakukan kunjungan ke masjid sunan Ampel “Raden Rahmat”. Sebelum adzan sholat jumat dikumandangkan kami menyempatkan untuk berziarah kubur ke makam putra tertua dari sunan Gresik  Maulana Malik Ibrahim itu. kalimah toyyibah serta do’a kami bacakan  dengan sangat khusu’ dan tawajuh illahi robby yang di pimpin oleh oleh saya sendiri selaku official dalam kunjungan ini. Ungkap ketua umum unit mahasiswa HTQ ini.
Selepas ziarah hati ini merasa tentram dan nyaman dan meresakan kenikmatan hidup yang mendalan serta tumbuh butiran semangat yang membara setiba di kantor jawa pos nanti, apalagi ketika ada diskusi hem hem, Ungkap gus Siroj salah satu reporter An-Naba HTQ ini, ketika dalam perjalanan menuju kendaraan elf itu. Menunggu teman-teman dalam perjalan menuju tempat kendaraan mobil elf ini, saya mengambil bagian untuk memanfaatkan waktu mengisi perut karena jam makan siang. Ungkap Gus Wahid salah satu layouter handal bulletin Ab-Naba HTQ ini dan membeli kenanang-kenanganan pula berupa peci haji, songkok hitam untuk shalat berjamaah di masjid Tarbiyah nanti.
Setelah kumpul semua crew bulletin ini, tanpa membuang waktu lama  mereka melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang menjadi target utama, jalan Jl. Jendral A Yani 88. Sesaat sampai di tempatnya terlihat dari kelopak mata ini sebuah lambang pena yang besar diatas gedung. Merupakan sebuah makna pusat dari berbagai kabar dan informasi dalam kancah nasional maupun internasional. Gedung itu mashur disebut dengan Graha Pena Jawa Pos, yang memiliki banyak cabang di berbagai sudut belahan nusantara ini dari sabang sampai marauke. Seperti: Radar Riau, Radar Lampung, Radar Banten, Radar Bengkulu, Radar Malang, Radar Surabaya dan lain sebagainya.
Rombongan yang terdiri 16 orang itu didampingi oleh 2 orang official sampai di tempat tujuan pukul 13.45. Dengan semangat yang membaranya tidak menghiraukan siapapun yang menganggu mereka dalam kunjungan ini. di bawah komando pimpinan redaksi Gus Muzakki merekapun langsung  melangkahkan kakinya menuju pintu utama Graha Pena Jawa Pos. Pihak terkaitpun mampu untuk menampung mereka  dengan baik tidak memandang siapa dan jabatan siapakah yang megunjugi kantor tinta emas itu. Karena kantor itu setiap hari pasti menerima tamu di mulai dari kunjungan sekolah menengah atau keatas, universitas hingga keduataan besar dari barbagai luar negeri dan birokasi kenegaraan Indonesia. Seperti kedutaann besar swedia yang memilki kulit putih, badannya yang tinggi, rambutnya berwarna coklat, dan yang berpakaian coklat muda. Dia sangat mengapresiasi sekali perkembangan yang dilakukan oleh Jawa Pos hingga sekarang ini, karena publkikasi Koran ini yang dimajukan oleh Dahlan Iskan mampu terjun bebas di kancah internasiaonal. Yang memiliki berbagai rayon di bunua Eropa yang bertujuan mempermudah bagi  reporter untuk mencari berita-berita atau informasi dalam aspek ekonomi, politik, pendidikan, hingga kebudayaan dalam dunia internasional.
Pihak dari Koran ini yang lahir pada 1 juli 1949, menyambut Crew Bulletin HTQ ini cukup baik. Diatas kursi bundar itu, mereka mendapatkan seputar informasi langsung dari Arif Sentosa selaku, (ketua liputan Jawa Pos) ini. disaat itulah dimulainya diskusi dan dialog yang cukup hangat sekali. Penjelasan yang diwalai langsung terkait sejarah dan profile Jawa Po situ sendiri. Disusul dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang mayoritas menuju kemajuan bulletin An-Naba ini. namun seluruh pertanyaan itu tidak bisa dijawab seluruhnya oleh Arif Sentosa karena mengingat waktu yang sudah merunjuk pukul 16.25 WIB. Dan itu menandakan selesainya sudah kunjungan dari jawa pos yang mengambil tema “GOES TO JAWA POS” itu. Berikut kutipan-kutipan  nilai penting dalam diskusi meja bundar tim bulletin ini dapatkan:
1.      Deadline dalam sebuah agenda ini sangat mendasar sekali karena ia harga mati.
2.      Sebuah berita yang dipublikasikan itu  yang harus memiliki kualitas yang baik meliputi : Aktual, informatif, menarik dibaca, wawasan baru bagi pembaca, memberikan sifat penasaran bagi pembaca atau mengadu emosi-emosi pembaca.
3.      Wartawan atau reporter minimal 3 berita perhari (Karyawan Jawa Pos)
4.      Mewawancara tidak semua ditulis namun inti dari permasalahan saja, setelah itu dikembangkan dengan bahasa sendiri.
5.      Wartawan/reporter harus gaul, memudahkan untuk akrab dengan seseorang yang dituju harus lihai dalam mengolah kata-kata.
6.      Foto-foto yang mendukung dengan berita yang ditampilkan.