Thursday, October 1, 2015

AZZAVENIA KITA SELAMANYA








Entah kenapa, semenjak dua hari kemarin hati ini bergemuruh kepada pemiliknya dan ia mengutarakannya dengan rasa kebatinan yang mendalam. Sesungguhnya ia merasakan rindu yang luhur sekali, setelah terpisahkan oleh alam kampus. Namun hati ini tetap bersyukur karena alam Ulul Albab hanya mampu memisahkan kita hanya sebatas ruang kelas tidak melebihi lintas fakultas. Hati ini berkeyakinan yang kokoh nan teguh. Bahwasannya walaupun wujud kita terpisah dan tersebar di berbagai ruang kelas lintas fakultas, tapi hati nurhani dan ruh kita tidak akan mampu untuk mengutarakan lembah-lembah kemunafkan, kedustaan, keingkaran terhadap apa yang kita peroleh yaitu rasa dan cinta sebuah kekeluargaan, kekompakan, keuinikan, kekonyolan, keanehakan dan lain-lain. Dan itu terbingkai dengan berbagai macam watak dan prilaku yang positif sesuai otaknya masing-masing, sehingga terwujudnya dan terbangunnya sebuah nama yang mulia dimata civitas akademika fakultas humiora khususnya dan UIN Maliki Malang umumnya yaitu AZZAVENIA LOVERS.

           
Selasa, bulan Agustus 2012, Sebuah fenomena yang tidak terduga sebelumnya, semenjak awal pertama kali aku hadir menginjakan kaki di ruang kelas B. 111. Semenjak itu aku merasakan ketidaknyamanan atau ketidakselarasan dan menganggap kelas ini, kelas yang kemampuannya lebih rendah diantara kelas lain. Mengingat status ini bernamakan kelas PBA D, dan beranggapan loyalitas dan kapabilitasnya sesuai dengan nama kelas tersebut. Namun tanggapan itu mampu dipatahkan secara perlahan dengan kegiatan-kegiatan kelas yang beraneka ragam.

            Sesaat usai, mata kuliah perdana pengantar filsafat ilmu salah satu mahasiswi mengajukan permohonan untuk mengajukan nama-nama kandidat yang terpilih sebagai ketua kelas PBA D. diantara nama-nama yang terkumpulkan banyak suaranya sekitar enam nama mahasiswa, tiga sebagianya putra dan putri. Dan nama akupun termasuk dalam kumpulan nama tersebut, M Darkun, Rijal Wahyu, Agung Muttaqien (tiga putra) dan Aulia, Diah Santika, dan Mala Femeldyana (tiga putri). Sistimatika dalam pemilhinya sangat demokratis sesuai bangsa kita yang mengemukakannya hal yang sama. Lalu terpilihnya suara terbanyak perwakilan dari putra Agung Muttaqien dan putri Mala F D. semua itu terjadi setalah Pa Inam mengajar sebagai dosen pengampuh.

Amanah yang kembali harus diemban dengan sebaiknya dan semaksimalnya selam roda kekeluargaan satu semester kedepan. Dari situlah terlihat dinamika kehidupan PBA D yang sesungguhnya. Jutaan rasa yang tertabur dan larut dalam hembusan nafas yang tak terbatas. Menimbulkan berbagai proses yang sangat signifikan. Terdengar denyutan nadi yang tidak akan pernah berhenti menandakan kehidupan kita selama satu semester tidak akan mati sedikitpun. Torehan mata setiap kali menatapkannya seksama menimbulkan rasa responsibility yang kuat antara satu dengan yang lain. Gerakan pemikiran dan perbuatan yang tidak akan habis untuk menghasilkan sesuatu yang inovatif guna menggebrak dunia kampus ini. Lalu apa sajakah yang dihasilkan yang inovatif untuk kampus ini? Mau tau cerita selanjutnya? Tunggu page AZZAVENIA KITA SELAMANYA dilain waktu. hehehe